LowonganKerja Kebudayaan Sumatera Utara Lengkap Beserta Gambar Dan Penjelasannya Juni 2022 Update Pkl: 02:45:45 pm | Tgl: Jumat 27 Mei 2022 Jakarta, DKI Jakarta | Rp 3.000.000 | full-time Home » Lowongan Kerja Kebudayaan Sumatera Utara Lengkap Beserta Gambar Dan Penjelasannya Juni 2022
Peta Papua Papua Indonesia adalah pulau dengan iklim tropik basah atau tropical rain forest. Meski secara umum Papua memiliki dua musim, yakni kemarau dan hujan, namun sukar untuk membedakan keduanya. Meski dalam musim kemarau pun, Papua memiliki curah hujan yang tinggi yakni hingga mm. Kondisi iklim dan geografis di Papua membuat persebaran tidak merata. Masyarakat Papua tersebar di seluruh pulau tersebut. Selain kondisi iklim dan geografisnya, topografi dari pulau pulau Papua menjadi sebabnya. Kelembaban di sana relatif tinggi yakni 80 sampai 89 persen. Suhunya pun beragam, yakni 19 hingga 28 derajat celcius. Bayangkan, Papua terdiri dari perpaduan antara pegunungan, lembah, sungai, hingga pantai. Dari Puncak Jaya sebagai titik tertinggi Indonesia, hingga Kota Merauke sebagai kota terendah dengan ketinggian 40-60 di atas permukaan laut. Paru-paru Dunia Menjadi salah satu paru-paru dunia, Indonesia memiliki luas keseluruhan hutan mencapai hektare. Tak ayal ia menyandang nama tersebut. Papua menjadi wilayah yang memiliki luas hutan terbesar dalam khazanah ekologi Indonesia dengan luas hutan mencapai hektare. Dunia menyebutnya sebagai paru-paru dunia, suaka flora dan fauna, hingga serpihan surga yang jatuh ke bumi. Adalah Papua, negeri dengan keanekaragaman budaya yang hidup rukun serta damai. Papua adalah raja dari hutan di Indonesia. Suburnya Tanah Papua tidak lepas dari letak geografisnya yang berada pada pada garis khatulistiwa. Pulau seluas 786 km persegi itu berbatasan dengan laut pasifik di sebelah utara, laut Arafuru dan Pulau Maluku di selatan, berbatasan dengan Papua Nugini di timur, dan lautan pasifik di sebelah barat. Jika dipetakan secara astronomis, Pulau Papua memiliki posisi 0º 20′ Lintang Selatan LS sampai 10º 42′ LS dan membentang dari 131º Bujur Timur BT hingga 151º BT. Letak astronomis tersebut mempengaruhi iklim di Papua. Arti Nama Papua Tak kenal, maka tak sayang. Begitulah kata peribahasa. Hingga saat ini, mungkin banyak dari warga Indonesia yang belum mengetahui makna dari Papua itu sendiri. Hari Suroto, seorang peneliti dari Balai Arkeologi Papua, adalah sosok yang pernah menjelaskannya. Dalam artikel yang dimuat oleh detik, Hari Suroto mengatakan setidaknya Papua dapat dimaknai dari bahasa Melayu, Biak, Belanda dan Indonesia. “Papua berasal dari bahasa Melayu yang artinya keriting. Arsip Portugis dan Spanyol abad ke-16, nama Papua mereka gunakan untuk menyebut orang dan tempat di Kepulauan Raja Ampat dan pesisir barat Papua,” jelasnya. Ingin tahu lebih banyak ? Baca juga Inilah Penjelasan Arti Nama Papua dari Berbagai Bahasa Sedangkan dalam bahasa Belanda disebut dengan sebutan Papua Niew Guinea. Mereka menyebut pulau tersebut sebagai satu kesatuan di mana Papua Nugini termasuk di dalamnya. Dalam bahasa lokal, kata Papua punya sejumlah makna. Menurut Hari orang Biak memaknainya sebagai tanah di bawah matahari tenggelam. Berbeda kala Indonesia menyebutnya dengan nama Irian. Presiden RI Pertama, Soekarno, merupakan orang yang mempopulerkan nama Irian. Ia menyebut Irian sebagai singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherland’. Irian pun punya makna dalam bahasa Biak dan Merauke. Dalam bahasa Biak, Irian berarti panas. Sedang dalam bahasa Merauke, Irian artinya tanah air. Pada tahun 2004, Presiden RI ke-4 merubah nama Irian kembali menjadi Papua hingga saat ini. Sebagaimana kita ketahui dalam teori migrasi, masyarakat nusantara terdiri dari dua ras, yakni Mongoloid dan Australomelanesid. Keturunan Australomelanesid adalah leluhur tertua di nusantara. Mereka mendiami wilaya timur Indoneisa. Harry Widianto, kepala riset Balai Arkeologi Yogyakarta, menyebutkan bahwa nenek moyang manusia nusantara berasal dari Afrika. Bukti paleoantropologis menyebut bahwa migrasi orang Afrika sejak tahun lalu bermuara di timur Indonesia. Mereka menyusuri pantai Afrika hingga kawasan Asia Tenggara. Masuk ke Nusantara melalui jembatan darat, yakni Sumatera, Kalimantan, Jawa, Halmahera, hingga akhirnya ke Papua. Baca juga Sejarah Papua Dari Masa Ke Masa Ras Melanesia merupakan manusia purba yang masuk dalam migrasi pertama yang masuk nusantara. Lantas, bagaimana dengan nenek moyang orang papua? Ras Melanesia memiliki keturunan yang hingga kini dipegang oleh orang Papua, yakni memiliki rambut merah dan keriting. Ras Melanesia yang semula bermukim di daerah sekitar Nugini ini mulai melakukan penjelajahan. Mulai dari Kepulauan Bismarck, Samudra Pasifik, hingga Australia. Populasi yang migrasi ke Australia kemudian hidup hingga tahun yang lalu. Dari sana, mereka baru bermigrasi ke Nusantara, seperti Nusa Tenggara, Jawa, dan Kalimantan pada tahun yang lalu. Mereka disebut sebagai ras Australomelanesid. Ras Australomelanesid ini yang menjadi nenek moyang orang-orang Papua. Harry menyebutkan bahwa orang Papua merupakan keturunan dari Australomelanesid, atau manusia modern yang masuk ke Nusantara tahun yang lalu. Boleh dibilang, mereka adalah Melanesia yang memiliki keturunan Australomelanesid. Masa Sebelum Papua Bernama Papua 200 M – 1500 M Tahukah Anda bahwa dahulu Papua memiliki nama lain? Papua sempat disebut dengan Labadios pada sekitar tahun 200 masehi. Klaudius Ptolomeus, seorang ahli geografi inilah yang memberi nama demikian. Selah 4 abad, buku Kertagama 1365 mengungkapkan 2 nama lain dari Pulau Labadios ini. Buku itu menyebutkan bahwa sekitar tahun 500 masehi, bangsa Tiongkok sempat menyebut pulau itu dengan nama Tungki. Menurut catatan kerajaan Sriwijaya tersebut, nama pulau itu adalah Janggi. Perbedaan ini nilai sebuah kesalahan eja saja. Pada tahun 700 masehi, pedagang asal Persia dan Gujarat mulai menyambangi pulai ini. Mereka pun memiliki sebutan lain untuk pulau seribu budaya itu. Pedagang asal Timur Tengah ini menyebut pulau tersebut dengan dua sebutan, yakni Dwi Panta dan Samudranta. Kedua nama itu memiliki makna yang mirip. Dwi Panta artinya ujung samudra dan Samudranta berarti ujung lautan. Hingga pada tahun 1300 masehi, Papua masih berganti-ganti nama. Misalnya, pada tahun tersebut Kerajaan Majapahit menyebutnya dengan sebutan wanin dan sram. Dua nama itu merujuk pada Pulau Onin dan Pulau Seram yang ada di Maluku. Masa Penemuan Papua hingga Kolonial 1500 M – 1700 M Kerajaan Tidore memiliki sejarah yang lekat dengan Papua. Berdasarkan catatan sejarah, Kerajaan Tidore-lah memberikan nama Papua di pulau tersebut. Terdapat beberapa perbedaan pendapat soal kapan tepatnya nama itu melekat. Namun, sejak tahun 1500-an masehi, bangsa Portugis sudah menyebut pulau itu dengan sebutan Papua. Antonio Figafetta, merupakan orang pertama yang menyebut pulau di timur Indonesia itu dengan sebutan Papua. Menurutnya, ia mendapatkan nama itu kala ia menyambangi pulau Tidore. Dari sana, diketahui bahwa Tidore telah memberikan nama tersebut sekitar awal tahun 1500 masehi. Berdasarkan Kerajaan Tidore, berasal dari kata Papa-Ua yang artinya tidak bergabung. Maksud dari Kerajaan Tidore merujuk pada masyarakatnya yang tidak memiliki raja yang memerintah. Diketahui kemudian, bahwa Kerajaan Tidore Timur yang menguasai Papua. Wilayah kekuasaannya mencakup wilayah Kepulauan Raja Ampat. Sejarah menyebutkan bahwa bangsa kolonial Eropa masuk ke Papua pada tahun 1500 masehi. Semua itu bermula saat Alvaro de Savedra, seorang pelancong asal Spanyol menyebut Papua sebagai pulau emas pada tahun 1528 masehi. Isla Del Oro yang artinya pulau emas merupakan nama yang berhasil menggaet bangsa Eropa lainnya untuk bertandang ke Papua. Nama Guinea Pertama kali Papua memiliki nama Guinea berasal dari pelaut bernama Inigo Ortiz de Rete. Pada tahun 1545, ia menyematkan nama Nueva Guinea atau Gova Guinea yang artinya Pulau Guinea Baru. Sebutan itu yang kemudian memiliki kaitan dengan penjajahan Belanda. Nama Niew Guinea digunakan oleh Belanda sebagai terjemahan dari Nueva Guinea atau yang berasal dari bahasa Spanyol. Nama itu mereka gunakan untuk memperkuat kekuasaan mereka pada tahun 1770. Sebelumnya, Belanda berhasil mengusir Spanyol pada tahun 1663 sejak pertama kali mendarat pada tahun 1606. Belanda kemudian mengunggah nama Niew Guinea pada peta Internasional dan mencetaknya. Itu merupakan awal mula dunia mengenai pulau di timur Nusantara itu sebagai Niew Guinea. Kontestasi Kekuasaan di Papua 1500 M – 1900 M Inggris pula hendak menancapkan jangkarnya di Niew Guinea. Pada tahun 1774, mereka berhasil mengusir Belanda. Mereka bergerak cepat dalam mengakuisisi bagian Barat Papua itu. Mulai dari menguasai Teluk Doreri di Manokwari pada tahun 1793 hingga membagi garis pulau dengan mendirikan Benteng Coronation di sana. Aksi ini mengundang amarah Kamaludin Syah, Sultan Tidore. Kesultanan Tidore berhasil memukul mundur Inggris pada tahun 1814. Namun, itu tidak lama. Selang 14 tahun setelahnya, giliran Belanda yang hendak unjuk gigi. Mereka mendirikan Benteng Fort Du Bus di Teluk Triton oleh van Delden atas nama Raja Willem I. Ini merupakan sinyal dari Belanda atas itikadnya menduduki Papua. Namun, strategi Belanda cukup efektif. Mereka melakukan kerja sama dengan 3 raja lokal, yakni Raja Namatote, Raja Lokaijhia dan Lutu. Dari perjanjian itu, ketiga orang pilihan Belanda tersebut mendapat pengakuan sebagai kepala dari 28 daerah yang mereka miliki. Tahun 1884, Inggris kembali datang. Mereka berhasil menduduki Papua Barat yang kala itu disebut sebagai Irian Barat. Di tahun yang sama, Jerman berhasil menguasai Timur Laut Irian Barat. Kejelasan soal kekuasaan ini baru menemui titik temunya kala Perjanjian Den Haag pada tahun 1895 dilakukan. Hasil dari perjanjian tersebut adalah pembagian kekuasaan antara Inggris dan Belanda. Irian Barat jatuh ke tangan Belanda dan Irian Timur atau Papua Nugini menjadi milik Inggris. Berdirinya Papua Tahun 1900 merupakan masa kebangkitan masyarakat Papua. Hal ini ditandai dengan pengakuan Perserikatan Bangsa-bangsa PBB dengan memberikan act of free choice bagi masyarakat Papua pada tahun 1969 untuk menentukan nasibnya sendiri. Namun sebelum masa itu datang, Belanda terlebih dahulu memberi pengaruh pada masyarakat lokal. Baca juga Papua Dalam Catatan Masa Lalu Nusantara Berdirinya sekolah Bestuur oleh Residen JP Van Eechoud pada tahun 1956 menjadi awal dari hal tersebut. Sekolah tersebut bertujuan untuk membangun pendidikan masyarakat Papua. Sekolah itu mencetak cendekiawan muda Papua, salah satunya adalah Frans Kaisiepo, seorang tokoh nasional Indonesia. Soegoro Atmoprasodjo selaku Direktur Sekolah Bestuur sekolah tersebut mendirikan dewan suku untuk mengkaji sejarah Papua. Dari sana, dewan suku merumuskan nama untuk tanah kelahirannya itu yang diambil dari bahasa lokal, yakni Irian. Perubahan nama itu tidak hanya simbolis, namun juga politis. Irian, selain berarti bangsa’ dalam bahasa Merauke, juga memiliki makna Ikut Republik Indonesia Anti Nederland’ yang disingkat menjadi IRIAN. Konferensi di Malino-Ujung Pandang pada tahun 1946 merupakan siaran pertama yang menyebut Irian resmi sebagai nama Papua. Saat Indonesia merdeka pada tahun 1945, Papua masih di bawah kekuasaan Belanda. Ini yang mengawali perhatian PBB terhadap bangsa di Indonesia Timur itu. PBB mendirikan United Nations Temporary Executive Authority UNTEA sebagai badan khusus yang menyiapkan act free choice Penentuan Pendapat Rakyat Pepera. Pepera merupakan media untuk menunjukkan pendapat masyarakat untuk memilih nasib mereka. Antara menjadi wilayah Belanda atau Indonesia. Hasilnya Indonesia memenangkan Pepera. Ragam Alam Bumi Papua Menurut sejarah geologi, gejala pengangkatan dan penurunan kulit bumi di Papua membuatnya memiliki topografi yang kompleks. Ini menjelaskan bagaimana Papua kaya akan keindahan alam. 1. Dataran Rendah Mangrove menjadi primadona di dataran rendah Papua. Mangrove tak hanya sekadar rumah bagi keanekaragaman hayati, namun juga berfungsi sebagai penangkal abrasi. Selain mangrove, Papua juga memiliki sungai dan lembah yang tersebar hingga ujung Papua. Sebut saja Mamberamo. Salah satu sungai terkenal yang bermuara di laut Pasifik. Ahli geografi mengena sungai tersebut sebagai depresi Mamberamo-Bawani. Beralih ke bagian selatan, terdapat sungai Agats, Breza, Lourenz dan Digul. Bagian selatan Papua merupakan wilayah sabana relatif lebih rendah dari wilayah bagian lain. Daerah itu menjadi tempat Kota Merauke berdiri. Pada wilayah kepala burung, terdapat sejumlah dataran seperti Ransiki, Momi, Oransbari, Warmare dan Prafi. Termasuk pula di sana terdapat dataran Kebar yang terletak di antara zona utara dan zona tengah. Secara umum, Papua memiliki lima dataran rendah, yakni Dataran rendah Pesisir bagian selatan Papua, Pesisir Arafura, Pesisir Trans-Fly, Pesisir Teluk Papua, dan Pesisir barat laut Papua. Mereka kaya akan sumber daya alamnya, baik kandungan minyak bumi dan gas, maupun hasil lautnya seperti ikan, udang dan kepiting. Salah satu sorotan dunia di bagian barat Papua adalah Teluk Bintuni. Dunia menyebutnya sebagai pemilik dari Sungai Amazon kedua di dunia. Teluk Bintuni memiliki luas hutan mangrove mencapai hektare. Itu sama dengan 52 persen dari total keseluruhan hutan bakau di Papua Barat. 2. Dataran Tinggi Sudah menjadi rahasia dunia bahwa Papua memiliki gunung tertinggi di Asia Tenggara, yakni Puncak Jaya. Dengan ketinggian meter, ia bahkan mengalahkan Gunung Fuji di Jepang. Selain puncak jaya, pulau ini memiliki sejumlah pegunungan lainnya yang tak kalah terkenal. Sebutlah Puncak Mandala, Puncak Trikora, Puncak Ngga Pilimsit, Puncak Yamin, Gunung Ulawun, Gunung Karewa, Gunung Korang, dan Gunung Yelia. Papua memiliki deretan pegunungan yang melingkari daerah pusat. Deretan itu menyambung antara satu dengan lainnya mulai dari Tog Warmari, Pegunungan Lina dan Gunung Genting. Deretan ini masih menyambung hingga deretan gunung yang ada di Papua Nugini, yakni pegunungan Bewani, Torriceli, dan Prince Alexander. Pada bagian selatan, terdapat deretan pegunungan serupa yakni Pegunungan Kobowre Tijo, dataran tinggi danau Wissel, Lembah Baliem, Pegunungan Bintang, dan bersambung ke Owen Stanlet di Papua Nugini. Pegunungan ini termasuk ke dalam circum Australian mountain system yang artinya pegunungan ini bersambung hingga timur benua Australia. Kebudayaan Papua Berbicara soal budaya di Papua tidak akan pernah habis. Bayangkan, untuk bahasa saja, Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat 384 bahasa yang berbeda di Papua pada tahun 2017. Dengan bahasa yang beragam, bagaimana dengan kebudayaannya? Kondisi topografi pulau di timur Indonesia ini memiliki andil dari banyaknya jumlah kebudayaan di sana. Klamer dan Ewing, peneliti dari Leiden University, menyebutkan bahwa hutan, bukit, dan gunung yang tinggi memaksa masyarakat lokal menyebar ke seluruh penjuru pulau. Hasilnya, mereka membentuk kebiasaan dan artefak sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Tentu, saat berbicara kebudayaan, kita tak hanya berbicara soal bahasa. Kebudayaan juga mencakup pakaian adat, rumah adat, tari-tarian tradisional, senjata tradisional, makanan khas Papua, musik tradisional, kerajinan tangan hingga kebiasaan mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa kebudayaan populer Papua. Pakaian Adat Papua Beserta Maknanya Salah satu ciri khas dari pakaian adat Papua adalah kesederhanaannya. Mereka terbuat dari bahan-bahan alami yang dapat diperoleh dari alam. Dikenal sederhana, bahkan hingga saat ini masih ada sejumlah suku yang mengenakannya. Sebutlah salah satunya yang paling terkenal adalah koteka. Baca selengkapnya Pakaian Adat Papua Beserta Gambar dan Penjelasannya Namun, pakaian adat Papua bukan sekadar koteka. Beberapa di antaranya adalah sali, yokal, dan rumbai. Meski sederhana, pakaian adat ini menggambarkan kegagahan dan keanggunan pemakainya. Pakaian Adat Koteka Pakaian koteka, misalnya. Melansir dari historia, Ibiroma, seorang pelajar adat dan budaya di Jayapura, menyampaikan makna koteka. Secara umum, koteka melambangkan status sosial dari penggunanya. Terdapat 3 jenis koteka, yakni pelindung kemaluan yang berbentuk melengkung ke depan, melengkung ke samping, dan tegak lurus. Masing-masing koteka menggambarkan status sosial penggunanya. Koteka yang miring ke depan digunakan oleh ketua klan, sedangkan yang melengkung ke samping digunakan oleh tabib dan pemimpin adat. Masyarakat umum biasanya menggunakan koteka yang tegak lurus. Koteka memiliki nama lain yakni holim. Pakaian Adat Sali Pakaian sali juga menjelaskan status dari penggunaanya yang dikenakan oleh perempuan suku Dani. Pembuatan pakaian ini dari kulit kayu yang biasa dikenakan oleh perempuan yang masih lajang. Pakaian Adat Yokal Berbeda dengan sali, yokal adalah pakaian adat Papua yang digunakan oleh perempuan yang sudah menikah. Pakaian ini berasal dari masyarakat Papua Barat. Bentuknya menyerupai rok atau kain yang terbuat dari kayu wam yang dipintal dengan rapi. Pakaian ini biasa digunakan sebagai rok dan bagian penutup dada. Rumbai merupakan pakaian yang paling lazim dikenal. Rumbai adalah rok yang terbuat susunan daun sagu kering. Tak hanya perempuan yang memakai rumbai, namun juga laki-laki. Penjelasan Serta Filosofi Pakaian Adat Papua Papua kaya akan tradisinya. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang memiliki solidaritas yang kuat antar sesama juga dengan alamnya. Beberapa semangat masyarakatnya yang dikenal antara lain anu beta tubat, iki palek, brapen, hingga ukiran asmat. Tak ayal jika kearifan ini menjadi magnet wisatawan mancanegara. Semangat gotong royong dapat dipelajari dari Suku Maybrat di Papua Barat. Anu beta tubat merupakan semangat yang dilandaskan pada asas gotong royong. Semangat itu mendorong masyarakatnya untuk memanggul beban hidup bersama. Hingga tahun 2017, kebudayaan ini dicatat sebagai kebudayaan tak benda. Contoh populer kebudayaan ini adalah membayar mas kawin sama-sama dan membayarkan anak sekolah. Beralih ke Suku Dani, terdapat sebuah rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang bagi sebagian orang berada di luar nalar. Iki palek, sebutannya. Menjadi tradisi Suku Dani untuk memotong salah satu jari mereka ketika mereka kehilangan anggota keluarga. Bagi mereka, keluarga adalah segala-galanya. Selanjutnya adalah brapen atau tradisi bakar batu. Sebuah tradisi yang dikenal hingga mancanegara lantaran kerap tampil saat festival Lembah Baliem. Brapen merupakan tradisi makan bersama dengan cara masak komunal menggunakan alat tradisional, yakni batu. Acara ini melibatkan seluruh anggota masyarakat, mulai dari laki-laki yang berburu dan perempuan yang memasak. Brapen adalah simbol persaudaraan antaran masyarakat bahkan luar komunitas. Satu lagi adat yang mendunia adalah ukiran Suku Asmat. Ukiran itu bukan sekadar dekorasi, melainkan cara masyarakat Asmat berkomunikasi dan mengagungkan leluhur. Ukiran biasa mengikuti aktivitas masyarakat Asmat atau menggambarkan sosok agung dari leluhur. Bagi mereka, mengukir patung sama saja dengan mengukir peradaban dan budaya. Makna Tarian Tradisional Papua Tari merupakan salah satu warisan budaya masyarakat yang menjadi sorotan warga dunia. Bukan hanya harmoni dari musik dan gerakannya saja, namun juga makna gerakan tersebut. Sebagian besar masyarakat tahu bahwa tarian masyarakat Papua mempunyai arti sebagai tarian perang. Meski terdapat sebagian tarian masyarakat Papua adalah tarian perang, namun tidak semuanya seperti itu. Beberapa tarian seperti yospan, wor, tumbutana, dan wutukala memiliki makna yang luar biasa. Tari Wor Wor merupakan tari tradisional asal masyarakat Biak, Papua. Dahulu, masyarakat Suku Biak melakukan tarian wor sebagai bentuk upacara religi. Tarian itu menggambarkan siklus kehidupan manusia mulai dari kelahiran hingga akhirnya mati. Dari tarian itu, akhirnya kenal sebuah pepatah asal Papua yang berbunyi Nggo Wor Baindo Na Nggo Mar yang artinya, tanpa upacara atau pesta maka adat akan layu. Pepatah itu menjadi salah satu semangat munculnya tarian yospan atau yosim. Pada tahun 1960, terdapat sebuah tarian kontemporer yang merupakan gabungan dari tari pancar dari Biak dan tari yosim dari Serui. Tari Yospan Baca selengkapnya Tari Yospan, Tari Persahabatan Rakyat Papua Senada dengan wor, yospan merupakan tarian pelindung budaya. Bedanya, gerakan dalam tarian yospan lebih luwes dan lincah. Pesertanya pun kebanyakan anak muda sebagai simbol menjaga budayanya. Tari Tumbutana Selanjutnya adalah tarian tumbutana sebagai bentuk resolusi ini dimulai dari Suku Kimaam yang ada di ujung pulau Papua. Tumbutana merupakan tarian yang terdapat dalam sebuah tradisi yang disebut ndambu. Masyarakat Kimaam mengartikan ndambu sebagai sebuah kompetisi asal klan untuk menunjukkan kebolehan kelompoknya. Kompetisi ini adalah kompetisi yang sehat. Mereka berlomba dalam hasil bumi. Di akhir acara, mereka melakukan pesta panen hasil bumi dengan melakukan tarian tumbutana. Tarian itu bermakna persaudaraan di mana seusai kompetisi, tidak ada yang lebih indah dari persatuan. Tari Wutukala Daro Suku Moy di Sorong, terdapat tarian wutukala sebagai bentuk syukur mereka. Sebagian besar masyarakat Suku Moy adalah nelayan. Kala mereka mendapatkan hasil yang melimpah, mereka bersyukur dengan melakukan tarian tersebut di pantai.
Berikutini daftar nama rumah adat Papua beserta keunikan, gambar, dan penjelasannya lengkap. Kategori. Salah satu daya tarik provinsi Papua adalah kebudayaan dan adatnya, termasuk juga rumah adat, tarian, dan wisatanya. rumah adat provinsi yang dulunya disebut dengan Irian Jaya ini juga ada yang memiliki pintu dan jendela secara
Pakaian Adat Papua dan PenjelasannyaPakaian SaliPakaian HolimPakaian YokalPakaian Adat Papua – Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai banyak sekali kebudayaan, suku, dan bahasa. Karena banyaknya perbedaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia menjadikan Indonesia mempunyai banyak sekali adat istiadat di setiap daerahnya. Tetapi dengan banyaknya perbedaan tersebut dapat menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara satu adat istiadat yang ada di daerah paling Timur Indonesia adalah adat dari daerah Papua. Dimana di daerah Papua sendiri memiliki berbagai macam suku dan juga pakaian adat yang berada di Papua diantaranya adalahSuku AsmatSuku DaniSuku BiakSuku KamoroSuku WaropenPakaian Adat PapuaSedangkan untuk pakaian adatnya sendiri merupakan pakaian yang dapat menggambarkan kedekatan suatu suku dengan alam Adat Papua dan PenjelasannyaUntuk nama pakaian adat Papua sendiri dibedakan menjadi dua pakaian yaitu pakaian adat untuk pria dan pakaian adat untuk wanita. Dimana perbedaan yang ada sebenarnya tidak terlalu banyak hanya ada pada bagian bawah pakaian saja. Pakaian adat ini juga mempunyai ciri khas yang ada pada bagian kepada dengan adanya penutup. Bagian ini terbuat dari bahan dasar daun sagu yang sudah dirajut dengan sangat rapih. Kemudian bagian atas penutup kepala terdapat bulu burung unik bukan? selain itu ada juga tiga baju adat yang berbeda dari bahan dasarnya. Berikut ini ada beberapa pakaian adat Papua SaliPakaian Sali Pakaian Adat PapuaPakaian Sali ini merupakan pakaian khusus yang digunakan untuk perempuan yang masih lajang atau belum menikah. Untuk pakaian ini memiliki bahan dasar yang sangat menarik yaitu dari kulit warna yang dihasilkan oleh kulit pohon tersebut akan menimbulkan warna coklat. Sehingga bagi perempuan yang sudah mempunyai ikatan atau yang sudah menikah tidak layak lagi untuk menggunakan pakaian adat ini. Biasanya untuk pakaian adat orang yang sudah menika juga HolimPakaian holim ini digunakan untuk para lelaki. Pakaian ini berasal dari suku dani Papua. Pakaian adat holim ini juga mempunyai nama lain yaitu koteka. Seperti yang sudah diketahui bahwa koteka ini sudah sangat terkenal namanya di masyarakat Indonesia sebagai pakaian adat Papua dan sebagai penutup kemaluan. Pakaian holim ini dapat digunakan untuk kegiatan apa saja dalam digunakan dengan cara diikat ke pinggang menggunakan seutas tali sehingga ujung koteka ini mengacung ke atas. Untuk koteka yang dikenakan saat acara adat, koteka digunakan biasanya berukuran panjang serta dilengkapi dengan ukiran etnik. Sedangkan untuk yang dikenakan saat bekerja dan aktivitas sehari-hari koteka yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari adalah koteka yang lebih HolimSuku Papua memiliki bentuk koteka yang berbeda-beda. Misalnya saja suku tion yang menggunakan dua buah labu air sekaligus sebagai koteka atau suku lain yang menggunakan hanya satu labu air saja. Cara membuat koteka ini yaitu dengan bahan buah labu air tua yang dikeringkan dan bagian dalamnya atau biji dan daging buah akan air yang dipilih adalah labu air tua karena cenderung lebih keras dan juga akan lebih awet daripada labu air muda. Setelah itu dilakukannya pengeringan. Pengeringan ini dilakukan agar koteka tidak cepat YokalPakaian adat Papua berikutnya adalah pakaian yokal, dimana pakaian ini hanya ada di daerah Papua barat dan sekitarnya. Pakaian ini juga hanya boleh digunakan oleh perempuan yang sudah memiliki keluarga atau yang sudah menikah. Pakaian ini juga hanya bisa dijumpai di pedalaman Papua. Untuk warna dari pakaian ini adalah warna coklat yang sedikit kemerahan. Pakaian ini tidak untuk dijual maupun di beli karena pakaian ini merupakan seuatu simbolis masyarakat Papua yang menggambarkan kedekatannya dengan YokalSelain dari ketiga pakaian tersebut masih ada beberapa aksesoris yang digunakan seperti rok rumbai yang terbuat dari susunan daun sagu kering yang digunakan untuk menutupi tubuh bagian bawah. Rok rumbai ini tidak hanya digunakan oleh para wanita tetapi juga digunakan oleh jika menggunakan rok rumbai ini maka dilengkapi dengan hiasan lainnya seperti hiasan kepala dari bahan ijuk, bulu burung kasuari, atau anyaman daun sagu. Selain itu juga ada perlengkapan lain seperti manik-manik dari kerang, taring babi yang diletakan di antara lubang hidung, gigi anjing yang dikalungkan di leher, tas noken yang terbuat dari anyaman kulit kayu untuk wadah umbi-umbian atau sayuran yang dikenakan di kepala. Kemudian tidak lupa alat tradisional yang digunakan seperti tombak Papua, panah, dan Sering Munculpakaian adat papuabaju adat papuanama pakaian adat papua
MotifBatik Semen gendong. Motif batik solo semen gendong adalah jenis kain batik tulis yang umumnya dipakai oleh mempelai wanita dan juga pria saat sesudah selesai upacara pernikahan sebagai bentuk harapan supaya segera mendapatkan anak yang penurut, berbakti, dan soleh solehah (bila mempelai beragama Islam). 10. Motif Batik Bondet.
Pakaian Adat Papua – Seperti provinsi daerah lain, pakaian adat Papua juga menjadi kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Papua memiliki keunikan tersendiri baik dari bahasa, kebiasaan, makanan hingga pakaian seperti salah satunya pakaian adat Papua untuk menutupi kemaluan laki laki bernama koteka. Artikel terkait Pakaian Adat Bali Ada beberapa pakaian adat Papua lain yang mungkin belum anda ketahui. Berikut akan kami berikan informasi tentang beberapa pakaian adat Papua dan juga pakaian adat Papua Barat selengkapnya untuk anda. Daftar Nama Pakaian Adat PapuaPakaian SaliRok Rumbia PapuaPakaian HolimYokalHiasan Rumbai KepalaRok Rumbai PriaBaju KurungBaju Kani Rumput Pakaian Sali Pakaian Sali merupakan baju adat Papua perempuan yang masih lajang atau belum menikah. Bahan dasar dari pakaian sali ini juga tidak kalah unik karena terbuat dari kulit pohon. Warna yang dihasilkan dari kulit pohon yang akan digunakan untuk pakaian juga harus berwarna coklat untuk menghasilkan pakaian adat yang sempurna. Rok Rumbia Papua Pakaian adat Papua selanjutnya adalah rok rumbia. Baju adat Papua perempuan ini dibuat dari susunan daun sagu kering yang nantinya akan digunakan untuk menutupi bagian tubuh tertentu seperti tubuh bagian bawah. Rok rumbia ini tidak hanya digunakan oleh wanita saja namun juga bisa digunakan oleh pria. Ketika pria memakai koteka dan wanita memakai rok rumbai, maka mereka sama sama tidak menggunakan baju atasan. Masyarakat Papua hanya menyamarkan tubuh bagian atas mereka dengan lukisan atau tato yang terbuat dari tinta alami. Untuk motif tatonya sendiri juga sangat bervariasi namun hanya seputar bentuk flora dan fauna khas dari Papua. Pakaian Holim Pakaian holim merupakan pakaian untuk para pria yang berasal dari suku Dani di Papua. Pakaian ini biasanya digunakan untuk sehari hari. Pakaian holim biasanya lebih dikenal dengan nama koteka yang terbuat dari bahan dasar kulit labu air. Suku suku di Papua sendiri juga memiliki beberapa bentuk koteka yang berbeda beda. Sebagai contoh, orang dari suku Tiom memakai dua buah labu air secara sekaligus berbeda dengan suku lain yang hanya memakai satu labu air saja. Beberapa suku di Papua juga menyebut pakaian holim ini dengan beberapa nama seperti bobbe, harim atau hilon. Pakaian holim biasanya dipakai sehari hari dan juga ketika melakukan upacara adat dengan cara diikat ke pinggang menggunakan tali sehingga bagian bagian ujung koteka ini akan mengacung ke arah atas. Sementara untuk acara adat, pakaian tradisional Papua yang digunakan lebih panjang lengkap dengan ukiran etnik dan untuk aktivitas sehari hari ukurannya lebih pendek. dari beberapa jenis pakaian adat Papua lain, pakaian holim ini lebih terkenal bahkan turis dari mancanegara yang datang ke Papua juga biasanya akan membeli pakaian holim ini sebagai oleh oleh khas Papua. Namun seiring berjalannya waktu, pakaian adat Papua ini sudah mulai jarang digunakan bahkan koteka sendiri juga dilarang digunakan di tempat umum seperti sekolah atau kendaraan umum sehingga hanya diperjualbelikan sebagai cinderamata saja. Sejak sekitar tahun 1950, para misionaris mulai mengkampanyekan pemakaian celana pendek untuk menggantikan pakaian holim atau koteka. Namun hal tersebut tidaklah dilakukan dengan mudah sebab suku Dani di Lembah Baliem pada kala itu terkadang memang memakai celana namun tetap ingin mempertahankan pemakaian koteka tersebut. Pemerintah RI pada tahun 1960 juga berusaha untuk mengurangi penggunaan koteka dengan kampanye antikoteka pada tahun 1964 yang digelar oleh Gubernur Frans Kaisiepo. Yokal Yokal adalah baju adat Papua perempuan khususnya Papua Barat dan daerah sekitarnya. Pakaian adat Papua ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah berkeluarga. Pakaian ini biasanya bisa dengan mudah anda lihat di daerah pedalaman Papua. Pakaian pakaian tradisional papua ini memiliki warna coklat agak kemerahan yang bukan untuk dijual atau dibeli namun menjadi simbol masyarakat Papua yang menggambarkan kedekatan dengan alam. Hiasan Rumbai Kepala Sebagai pelengkap pakaian daerah, bagian kepala masyarakat Papua juga akan ditambahkan dengan hiasan rumbai rumbai yang berbentuk seperti sebuah mahkota. Hiasan rumbai kepala ini terbuat dari bahan bulu burung kasuari dan juga bulu berwarna putih yang diambil dari bulu kelinci. Rok Rumbai Pria Rok rumbai memang menjadi baju adat Papua perempuan dan juga digunakan oleh laki laki. Rok rumbai untuk pria ini terbuat dari daun sagu yang digunakan untuk menutupi kemaluan pria saja. Sementara pada bagian kepala juga dilengkapi dengan hiasan dari bulu burung dan daun sagu yang dibentuk dengan rapi. Pakaian adat Papua untuk pria juga dilengkapi dengan beberapa hiasan seperti daun sagu dan juga taring babi. Beberapa aksesoris tersebut menjadi simbol kejantanan dari para lelaki Papua. Selain itu, pria papua juga menggunakan aksesoris lain yang tidak kalah unik yakni gelang dan kalung yang terbuat dari gigi anjing dan juga bulu cendrawasih. Baju Kurung Baju kurung merupakan pakaian khas Papua dan juga Papua Barat yang digunakan sebagai atasan dari rok rumbai. Baju kurung tersebut terbuat dari kain beludru yang dilengkapi juga dengan beberapa hiasan rumbai bulu pada bagian tepi leher, lengan atau pada bagian pinggang. Baju atasan wanita Papua dan Papua Barat ini sebetulnya mendapat pengaruh dari kebudayaan luar sehingga bisa disebut dengan baju adat Papua modern yang biasanya hanya digunakan oleh masyarakat Papua dan Papua Barat yang tinggal di sekitar kota Manokwari. Busana adat Papua juga akan dipercantik dengan penggunaan gelang dan kalung yang terbuat dari biji bijian keras lalu dirangkai dengan benang. Sementara untuk penutup kepalanya menggunakan bulu burung kasuari. Baju Kani Rumput Baju kani rumput adalah pakaian adat suku Papua modern, lebih tepatnya dari Sorong Selatan yang bisa digunakan oleh pria atau wanita. Baju kani rumput ini terbuat dari daun sagu yang sudah dikeringkan. Daun sagu yang digunakan juga harus daun yang masih pucuk dan diambil ketika sedang pasang air laut. Sesudah melewati proses pengeringan dan juga perendaman dalam cara membuat pakaian adat Papua ini, baju kani rumput kemudian akan dipintal secara manual atau lebih sering disebut dengan dianyam. Dalam proses menganyam, masyarakat Papua hanya memakai kayu sepanjang 1 meter yang digunakan untuk mengaitkan ujung ujung tali. Rumput kering lebih dulu akan dipilin menjadi satu yang nantinya akan digunakan sebagai karet pada bagian pinggang atau disebut dengan tali. Masyarakat Papua memberikan variasi jumlah dari tali tersebut minimal sebanyak 2 tali. Untuk satu pakaian ini akan dihargai sebesar 500 ribu sebagai rok. Namun jika ingin satu pasang baju, maka harga yang harus dibayar juga dua kali lipat yakni 1 juta. Masyarakat Sorong Selatan biasanya akan memakai pakaian ini pada acara adat seperti pesta antar mas kawin. Jika anda ingin mendapatkan pakaian adat Papua ini, anda tidak perlu jauh jauh datang ke Sorong Selatan, sebab di Pantai WTC Raja Ampat sering diadakan bazar Sidang Sinode GKI dimana anda bisa melihat masyarakat yang sedang membuat baju adat ini atau untuk membelinya.
PakaianAdat Papua - Papua, salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keunikan serta sisi etnik yang sangat memukau. Bukan hanya budayanya saja yang unik, namun pakaian adat Papua juga sangat menarik dan berbeda dengan yang lain. Pakaian yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia bagian Timur ini bisa dibilang sangat mengagumkan.
8 Senjata Tradisional dari Papua Beserta Fungsi dan Gambarnya Lengkap – Indonesia terdiri atas banyak pulau yang memiliki keberagaman kebudayaan di dalamnya. Di ujung Merauke, kita mengenal Pulau Papua yang memiliki berbagai kebudayaan dengan keindahan alam dan hewan eksotisnya. Saudara kita di Papua adalah masyarakat yang spesial dan patut untuk dihargai kebudayaannya. Mereka juga memiliki hak untuk menjadi WNI sebagaimana mestinya dan masih menjalani kehidupan dengan budayanya. Senjata Tradisional dari PapuaDaftar IsiSenjata Tradisional dari Papua1. Alat Tusuk dari Tulang Kuskus Papua2. Pisau Belati Papua3. Tombak Tradisional Papua4. Parang Papua5. Kapak Batu Khas Papua6. Pahat Khas Papua7. Badik Papua8. Busur dan Panah Papua Daftar Isi Senjata Tradisional dari Papua 1. Alat Tusuk dari Tulang Kuskus Papua 2. Pisau Belati Papua 3. Tombak Tradisional Papua 4. Parang Papua 5. Kapak Batu Khas Papua 6. Pahat Khas Papua 7. Badik Papua 8. Busur dan Panah Papua Mereka masih menjunjung tinggi kebudayaan untuk mempertahankan kelestariannya. Dapat dikatakan bahwa mereka sangat menghargai alam yang mereka pijaki. Kita juga mengenal Papua tidak hanya dari kebudayaannya, tetap juga keindahan alam dan hewan-hewan eksotis yang masih hidup disana. Burung Kasuari, adalah salah satu contoh hewan eksotis yang saat ini juga dalam perlindungan sebab terancam punah. Namun, keberadaanya masih bisa ditemukan di pedalam hutan di wilayah Papua. Kali ini kita akan lebih dalam membahas mengenai berbagai senjata tradisional dari Papua. Kira-kira ada apa saja yang senjata tradisional dari Papua? Mari kita simak penjelasannya di bawah ini. Senjata tradisional adalah alat yang penting dalam sebuah kebudayaan. Selain digunakan untuk menandai asal muasal suku atau daerah, senjata tradisional juga digunakan untuk membantu keperluan hidup seperti berburu dan perang. Seperti halnya berbagai senjata tradisional dari Papua, yang memiliki keunikan serta kegunaannya masing-masing. Berikut ini berbagai senjata tradisional dari Papua serta fungsinya bagi masyarakat Papua. 1. Alat Tusuk dari Tulang Kuskus Papua Alat tusuk dari tulang kuskus adalah senjata tradisional Papua yang dimiliki oleh salah satu suku asli di Papua, yaitu suku Bauzi. Suku ini hidup secara semi nomaden, sebab suku Bauzi tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Alat Tusuk dari tulang Kuskus digunakan untuk berburu binatang dan alat keperluan panen. Alat Tusuk dari Tulang kuskus adalah senjata tradisional ramah lingkungan, sebab proses pembuatannya tidak menggunakan alat industri yang mencemari alam. Senjata tradisional ini terbuat dari bahan tulang hewan kuskus yang nantinya dibersihkan. Lalu, diruncingkan pada batu asahan dengan menggosoknya, proses itu dilakukan secara terus menerus sehingga ujung senjata menjadi runcing. 2. Pisau Belati Papua Pisau Belati Papua adalah senjata tradisional dengan ukuran yang kecil. Senjata ini memiliki bentuk yang unik, sebab terdapat rumbai-rumbai pada bagian gagang senjata. Pisau Belati Papua sering digunakan untuk menyayat dan memotong ketika sedang berburu binatang di hutan. Senjata tradisional ini terbuat dari bahan yang sulit ditemukan di daerah lainnya, yaitu tulang burung kasuari. Tulang dari burung kasuari sering dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menjadi alat yang bermanfaat untuk kehidupan. Bulu yang melekat di gagang pisau juga berasal dari bulu burung kasuari. 3. Tombak Tradisional Papua Tombak Tradisional Papua adalah senjata yang biasa digunakan sebagai alat pertempuran dan perburuan. Tombak ini juga sering digunakan untuk properti dalam sebuah tarian daerah di Papua. Tombak ini dibuat dari bahan-bahan dasar yang mudah ditemukan di alam, yaitu kayu yang biasa diolah untuk membuat gagang. Sedangkan, bagian mata tombak menggunakan batu kali yang nantinya akan diasah agar semakin tajam. Tombak ini dapat dikatakan spesial karena memiliki aturan tersendiri dalam adat Papua, yaitu tidak diperkenankan untuk menggunakan tombak ini selain untuk berburu atau perang. Dalam adat tradisional di Papua, tombak juga diartikan sebagai lambang dari kegagahan seorang pria. Sehingga, tombak harus selalu disimpan dengan baik oleh pemiliknya. 4. Parang Papua Parang Papua adalah senjata tradisional yang berasal dari daerah Papua Barat. Senjata ini melambangkan kekuatan dan keuletan seorang pria dalam sebuah rumah tangga. Masyarakat Papua Barat menyebut senjata itu dengan nama jalowy. Proses pembuatan senjata Parang Papua membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab, Parang tersebut memiliki bahan dari sebuah batu yang dibelah, dan nantinya harus diasah hingga tajam dan membentuk sebuah senjata parang. Selain digunakan untuk perlindungan diri, senjata ini juga digunakan sebagai keperluan rumah tangga, memasak, memotong daging, hingga menebang pohon sagu. Tak hanya itu, Parang Papua juga bisa digunakan dalam kegiatan industri seperti pertanian atau bahkan untuk melamar calon pasangan wanita. 5. Kapak Batu Khas Papua Kapak Batu adalah senjata tradisional yang menjadi lambang dari daerah Irian Jaya. Senjata ini masih digunakan oleh suku di Papua, senjata ini juga masih sering digunakan alat untuk aktivitas keseharian. Cara membuat kapak batu juga bisa dikatakan cukup mudah, yakni hanya dengan mengikat satu potong batuan ke sebuah kayu yang akan digunakan sebagai alas untuk pegangan. Pada zaman dahulu, masyarakat Papua menggunakan kapak batu ini untuk menebang pohon hingga membuat sagu. Fungsi utama dari senjata tradisional ini adalah untuk pertahanan diri ketika terjadi pertempuran. Tetapi seiring dengan berkembangnya zaman, orang-orang lebih banyak menggunakan kapak batu sebagai alat untuk menggosok senjata dari besi, memotong tanaman, dan juga membelah kayu. 6. Pahat Khas Papua Pahat adalah senjata tradisional yang memiliki beragam fungsi, yaitu untuk memotong rotan yang nanti akan dianyam, melubangi kayu, dan menusuk musuh bila terjadi peperangan. Namun, saat ini pahat sudah beralih fungsi menjadi perkakas atau alat-alat yang digunakan dalam bidang pertukangan. Menurut sejarah adat, pahat adalah alat yang biasa digunakan untuk memangkas jari-jari tangan jenazah yang berasal dari anggota keluarga yang meninggal. Namun, budaya tersebut telah mendapatkan larangan oleh pemerintah dan saat ini pahat hanya boleh digunakan sebagai alat dalam kegiatan industri. Proses pembuatan dari pahat juga tidak terlalu susah. Hal yang dibutuhkan hanya kejelian agar tidak menggosok bagian ujung pahat terlalu tipis. Untuk menambah kenyamanan ketika menggunakan, para pengrajin pahat akan menempelkan lilitan dari kayu yang tipis agar nyaman ketika digenggam. 7. Badik Papua Badik sebenarnya adalah senjata tradisional yang berasal suku Bugis, Makassar. Namun, senjata ini sekarang juga menjadi senjata tradisional di Papua setelah masyarakat di Papua mulai mengenal budaya dunia luar. Senjata Badik ini memiliki bentuk sedikit pendek mirip dengan pisau, namun ada mitos yang mengatakan jika senjata badik tersebut dipercaya memiliki kegunaan dan juga keampuhan yang dikenal dari gaya pada badik suku Bugis. Masyarakat di Papua juga meyakini jika senjata badik ini memiliki nilai dan juga makna tertentu di dalamnya. Hingga masyarakat di wilayah Papua juga menjadikan senjata tersebut sebagai senjata tradisional yang digunakan untuk bertempur dan berkelahi. 8. Busur dan Panah Papua Busur dan Panah adalah senjata tradisional dari Papua yang sering digunakan untuk berburu babi hutan dan binatang lainnya. Tak hanya itu, fungsi dari busur dan panah juga sebagai alat yang akan selalu dibawa berdampingan dengan tombak. Busur dan panah juga sering digunakan masyarakat untuk berperang, namun ada perbedaan bahan yang digunakan pada mata panahnya. Jika tujuan panah digunakan untuk berburu binatang, maka mata panah yang digunakan terbuat dari bahan bambu. Namun, jika digunakan untuk berperang, maka mata tombak yang digunakan terbuat dari bahan tulang binatang. Namun, pada saat ini senjata busur dan panah sudah banyak mengalami perkembangan dan juga perubahan bentuk akibat dari efek modernisasi. Sehingga, muncul cabang olahraga panahan yang memiliki kesamaan dari segi teknik dan alatnya. Hal yang membedakan hanya pada tujuan digunakannya busur dan panah. Untuk panahan digunakan dalam kegiatan rekreasi, sedangkan senjata busur dan panah Papua digunakan untuk alat pertahanan hidup. Nah, itu tadi pembahasan mengenai senjata tradisional dari Papua. Keunikan yang ada di senjata tradisional tersebut juga melambangkan kekayaan budaya yang ada di Papua. Harapannya dengan artikel ini kalian dapat lebih memahami dan melestarikan kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Kalian dapat membaca artikel lainnya mengenai senjata tradisional pada kolom yang tersedia di Mamikos. Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu Kost Dekat UGM Jogja Kost Dekat UNPAD Jatinangor Kost Dekat UNDIP Semarang Kost Dekat UI Depok Kost Dekat UB Malang Kost Dekat Unnes Semarang Kost Dekat UMY Jogja Kost Dekat UNY Jogja Kost Dekat UNS Solo Kost Dekat ITB Bandung Kost Dekat UMS Solo Kost Dekat ITS Surabaya Kost Dekat Unesa Surabaya Kost Dekat UNAIR Surabaya Kost Dekat UIN Jakarta
Berbicaratentang adat istiadat, Papua mempunyai berbagai keunikan yang menjadikan hal tersebut sebagai ciri khas masyarakat di sana. Berikut lima tradisi unik dari Papua yang wajib kamu ketahui. 1. Tradisi Iki Palek. goodnewsfromindonesia.id. Apakah kamu pernah membayangkan jika jarimu dengan sengaja dipotong?
Papua barat yang dulu dikenal dengan nama Irian Jaya adalah bagian dari pulau Papua Nugini dan juga merupakan wilayah Indonesia paling timur. Wilayah Papua mencakup beberapa pulau kecil di sekitarnya termasuk pulau Biak. Sebagian besar wilayahnya tertutupi hutan lebat yang menjadi habitat beberapa hewan endemik Indonesia seperti cendrawasih, tapir, dan kasuari. Terdapat suku pedalaman yang masih tinggal di dalam hutan seperti suku Dani yang tinggal di lembah Baliem, meski sebagian besar populasi Papua tinggal di sekitar pesisir hasil penelitian, ada sekitar 700-an bahasa daerah terdapat di Papua dan ada kurang-lebih 200 bahasa tradisional yang masih aktif digunakan termasuk bahasa Dani, Yali, Ekari, dan Biak meski yang paling luas dipakai untuk berkomunikasi oleh masyarakat Papua adalah Bahasa banyak budaya khas Papua yang menarik untuk dibahas. Disamping tradisi dan bahasa yang berbeda antara suku yang tinggal di daerah pegunungan dan yang tinggal di daerah pesisir pantai, penduduk papua memiliki upacara adat, pakaian, dan rumah tradisional yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang selama ribuan tahun yang terus dijaga hingga saat terkaitKebudayaan Nangroe Aceh DarussalamKebudayaan LampungKebudayaan Sumatera SelatanKebudayaan MinangkabauKebudayaan PacitanKebudayaan Sunda1. Bakar BatuBiasanya Bakar Batu diadakan ketika menyambut tamu penting atau pesta pernikahan. Bakar Batu juga dilaksanakan ketika menutup musim panen sebagai bentuk rasa syukur kepada sang pencipta atas hasil panen yang melimpah. Dinamakan Bakar Batu karena di dalam perayaan ini, suku-suku di Papua memasak makanan yang menjadi hidangan pesta dengan cara membakarnya dengan batu dimulai dengan menyalakan api secara tradisional, yaitu menggesek rotan ke atas kayu hingga memercikkan api. Api tersebut akan digunakan untuk membakar batu hingga batu tersebut cukup panas. Batu ini yang kemudian disusun sedemikian rupa di dalam lubang yang telah disediakan lalu ditumpuk di atasnya bahan makanan seperti ubi dan babi yang akan ditutup lagi oleh batu-batu panas dan ditutupi oleh rumput-rumputan agar panas tetap berada di dalam dan membakar makanan hingga suku memiliki sebutan tersendiri yang merujuk pada upacara adat ini. Seperti halnya masyarakat Paniai yang menggunakan kata mogo gapii atau warga di Wamena yang menyebutnya dengan sebutan kit oba isago. Namun istilah yang paling umum digunakan adalah Potong JariYakuza bukanlah satu-satunya kelompok masyarakat dunia yang memiliki tradisi potong jari. Namun berbeda dengan Yakuza yang memotong jari ketika mereka gagal dalam melaksanakan misi, masyarakat Papua melakukan tradisi ini ketika mereka kehilangan anggota adat mewajibkan keluarga yang kehilangan untuk memotong jarinya karena untuk beberapa suku di Papua, mereka menganggap jari sebagai representasi anggota keluarga. Ketika seseorang kehilangan satu anggota keluarga maka secara otomatis mereka juga harus kehilangan satu dilihat dari perspektif modern, tentu tradisi potong jari adalah tradisi yang sangat ekstrim dan tidak seharusnya masih dilakukan. Oleh karena perubahan zaman juga, tradisi ini mulai ditinggalkan dan semakin dilupakan oleh suku-suku di Kayu UkirTidak banyak yang tahu jika ukiran kayu Indonesia yang mendunia bukan hanya berasal dari kota Jepara tapi juga dari daerah timur nusantara, lebih tepatnya suku Asmat yang mendiami teluk Flamingo. Selama ribuan tahun, pemahat kayu dipandang sebagai profesi yang terhormat di kalangan suku kayu rumit yang dipahat secara alat-alat tradisional menjadi ciri khas yang menarik minat wisatawan dunia. Peralatan yang digunakan pun masih sangat sederhana, seperti kapak yang terbuat dari batu, tulang binatang dan kulit kerang. Nilai estetika yang tinggi menjadikan kerajinan ini dijual dengan harga yang sangat tinggi. Tidak hanya dari segi estetis, ukiran kayu Asmat memiliki empat fungsi kultur, diantaranyaPerwujudan arwah nenek moyang;Ungkapan perasaan senang atau sedih;Simbol-simbol religi seperti manusia, hewan, tumbuhan dan berbagai objek lain;Simbol keindahan dan kearifan terkaitMotif Seni Ukir NusantaraSeni Rupa 3 DimensiBudaya Indonesia yang MenduniaKebudayaan Nusa Tenggara Timur4. KotekaMungkin ini adalah karya budaya Papua yang paling dikenal luas oleh masyarakat dunia. Koteka adalah pakaian tradisional masyarakat Papua yang digunakan sebagai penutup kemaluan lelaki dewasa beberapa suku di Papua. Namun begitu, tidak semua suku di Papua memakai koteka. Koteka hanya digunakan oleh beberapa suku yang tinggal di pegunungan, sementara untuk penduduk yang tinggal di daerah pesisir pantai lebih memilih moge sebagai pilihan berbusana, sejenis cawat yang berbentuk dikenakan oleh anak lelaki yang telah menginjak umur 5 tahun. Bukan hanya sebagai pakaian, koteka juga sebuah perlambangan strata sosial masyarakat papua. Semakin tinggi status atau jabatan seseorang maka dia berhak untuk mengenakan koteka dengan ukuran yang lebih besar. Untuk para raja atau kepala suku, koteka yang mereka kenakan khusus merupakan turun temurun dari pendahulu mereka Pakaian Adat WanitaAda banyak jenis pakaian tradisional wanita yang bisa ditemukan di Papua, hampir tiap suku memiliki baju adatnya masing-masing. Meski begitu, kebanyakan pakaian ini terbuat dari bahan yang sama diambil dari serat-serat tumbuhan yang dikeringkan yang kemudian dirangkai menjadi semacam rok untuk menutupi tubuh bagian yang digunakan di pakaian juga relatif tidak begitu rumit, hanya bentuk-bentuk seperti bulatan dan kotak yang tersusun secara geometris. Biasanya ditambahkan beberapa hiasan kepala sebagai asesoris yang terbuat dari bulu-bulu binatang seperti burung tidak banyak namun beberapa suku di Papua juga dikenal dengan kerajinan kain tenunnya. Warna-warna yang digunakan tidak begitu variatif hanya coklat, merah, hitam atau kuning karena masih menggunakan pewarna alami dari getah terkaitUnsur-unsur KebudayaanTarian tradisional Sumatera BaratSejarah Wayang GolekKebudayaan BatakKarakteristik Kebudayaan6. Rumah Tradisional HonaiArsitektur rumah tradisional Honai didesain khusus untuk melawan cuaca pegunungan Papua yang dingin. Ruangan rumah dibuat tidak terlalu besar dengan tinggi rumah mencapai 2-2,5 meter dengan sebuah pintu dan tanpa jendela. Seluruh dinding rumah dibangun dari potongan kayu dengan atap yang disusun dari jerami kering tebal. Ditengah rumah terdapat tungku perapian yang biasa digunakan untuk memasak atau sekedar menghangatkan suhu sendiri dibagi menjadi 3 jenisHonai, rumah yang diperuntukan untuk kaum priaEbei, rumah yang diperuntukan untuk kaum wanitaWamai, rumah yang dijadikan kandang babiHonai memiliki fungsi lebih dari sekedar tempat tinggal. Honai digunakan masyarakat Papua sebagai tempat berkumpul, mendidik anak-anak sebagai generasi penerus dan pada zaman dahulu juga digunakan sebagai tempat mengatur strategi jika terjadi perang antar suku.
MitosDua Orang Saudara. 2. Mitos Orang Pegunungan Tengah. 3. Mitos Kulit Kerang Teluk Triton. Penutup. Indonesia kaya akan nilai budaya, termasuk alat musik tradisional yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Bahkan, tidak jarang alat musik tradisional Indonesia mendunia di skala global.
Suku Papua – Papua adalah pulau yang terletak di bagian paling timur Indonesia. Sebelumnya Papua disebut Irian Barat atau Irian Jaya. Di sana terdapat banyak Suku Papua yang beragam. Sekitar ratusan suku ada di sana. Selain terdapat banyak suku yang mendiami di papua, papua juga terkenal dengan kekayaan alam yang terpendam di dalamnya. Banyak jutaan mata di dunia yang tertarik dengan pulau ini. Bukan hanya sumber daya alamnya yang melimpah saja, keindahan alam papua juga bak surga dunia yang sangat mempesona. Selama belasan tahun terakhir ini, nama papua telah dikenal orang di dunia. Beragam keunikan yang dimiliki papua akan membuat anda jatuh hati dengan pulau ini, khususnya adalah Suku Papua yang banyak dan mempunyai ciri khas sendiri. Ada banyak sekali Suku Papua. Tidak sedikit dari suku tersebut masih primitif dan memegang erat adat istiadat nenek moyang sampai sekarang. Seperti Suku Asmat, Suku Amungme, Suku Asmat mungkin familiar di telinga anda. Bukan hanya itu saja, masih banyak suku lagi di papua. Daftar Suku Bangsa di Papua Menurut sumber yang ada, menyatakan bahwa manusia pertama yang bermigrasi ke Papua lebih dari 45 ribu tahun yang lalu. Saat ini, populasi suku-suku di papua lebih dari 3 juta jiwa. Sebagian dari mereka tinggal di dataran tinggi. Berikut adalah Suku Papua yang banyak diperbincangkan 1. Suku Asmat Suku Asmat adalah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyaknya suku di Papua. Salah satu hal yang membuat Suku Asmat cukup terkenal adalah hasil ukiran kayu yang sangat khas. Beberapa motif seringkali menjadi tema utama dalam hal membuat ukiran ini. Biasanya Suku Asmat mengambil tema nenek moyang mereka atau biasa disebut mbis. Bagi Suku Asmat seni ukir merupakan perwujudan dari mereka melakukan ritual untuk mengenang arwah leluhurnya. Sering kali ditemui motif yang menyerupai perahu. Mereka percaya simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. 2. Suku Amungme Suku Amungme memiliki 13,000 orang dan tinggal di dataran tinggi papua. Salah satu Suku Papua ini memiliki cara yang sangat unik. Mereka menjalankan pertanian yang berpindah serta melakukan kegiatan dengan berburu dan mengumpul. Suku Amungme sangat terikat dengan tanah leluhur mereka. Mereka menganggap sekitar gunung adalah tempat yang suci. Gunung yang dijadikan penambangan emas oleh merupakan gunung suci yang sangat di aung-agungkan. Masyarakat Suku Amungme menyebutnya dengan nama Nemang Kawi. Nemang artinya panah dan kawi artinya suci, jadi Nawang Kawi adalah panah yang suci atau dengan makna bebas perang atau perdamaian. Wilayah Suku Amungme disebut Amungsa. 3. Suku Dani Suku Dani adalah salah satu dari sekian banyaknya Suku Papua yang mendiami di daerah pegunungan serta mendiami keseluruhan Kabupaten Jayawijaya. Banyak orang mengenal Suku Dani mendiami suatu wilayah di Lembah Baliem. Dimana tempat itu terkenal dengan petani yang terampil dan sudah menggunakan perkakas seperti kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan kayu galian yang terkenal kuat dan berat. Suku Dani masih banyak mengenakan koteka atau penutup kemaluan pria. Sedangkan untuk wanita mengenakan pakaian wah yang terbuat dari rumput atau serat. Mereka tinggalnya di rumah honai. Upacara besar serta keagamaan dan perang masih dilaksanakan Suku Dani. Suku ini pertama kali diketahui di Lembah Baliem sekitar ratusan tahun yang lalu. 4. Suku Korowai Suku Korowai ini mendiami area luas di dataran rendah di selatan pegunungan Jayawijaya. Daerah itu membentuk rawa, hutan mangrove dan lahan basah. Suku Korowai memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah salah satunya manusia di bumi. Suku Korowai juga salah satu Suku Papua yang tidak mengenakan koteka. Banyak orang mengenal Suku Korowai dikenal sebagai pemburu-pengumpul yang tinggal dirumah pohon. 5. Suku Muyu Suku Muyu Adalah salah satu suku asli papua yang hidup dan berkembang di Kabupaten Boven Digoel. Nenek moyang Suku Muyu dulunya tinggal di daerah sekitar sungai muyu yang terletak di sebelah timur laut Merauke. Uniknya lagi, beberapa anthropologist menyebut Suku Muyu adalah Primitive Capitalists. Suku Muyu dianggap sebagai suku pedalaman yang pintar. Mereka menduduki posisi penting dalam struktur birokrasi Boven Digoel. Dari 1800 pegawai negeri sipil, sekitar 45% nya adalah dari Suku Muyu. Suku Muyu terkenal hemat, pekerja keras dan sangat menghargai pendidikan. Mereka menyebut dirinya sendiri dengan istilah Kati. Maknanya adalah manusia yang sesungguhnya. 6. Suku Bauzi Oleh lembaga misi dan bahasa Amerika Serikat, suku Bauzi maasuk daftar 14 suku yang terasing. Sebagai suku yang menempati kawasan terisolir, sebagian lelaki suku bauzi mengenakan cawat yang berupa selembar dan atau kulit pohon yang telah dikeringkan lalu diikat dengan tali pada ujung alat kelamin. Sedangkan para wanita mengenakan selembar daun atau kulit kayu yang dikeringkan dan di tali di pinggang mereka untuk menutupi auratnya Pada acara pesta adat atau penyambutan tamu, para lelaki dewasa mengenakan hiasan kepala dari bulu kasuari dan mengoles tubuh mereka dengan sagu. Sebagian besar suku ini masih hidup dengan taraf berburu dan meramu serta semi nomaden. 7. Suku Huli Suku Huli juga salah satu suku terbesar Suku Papua. Mereka melukis wajah mereka dengan warna kuning, merah dan putih. Mereka terkenal dengan tradisi mereka yang membuat wig dari rambut mereka sendiri. Alat seperti kapak dengan cakar juga tak ketinggalan melengkapi mereka agar menambah kesan menakutkan. Kesimpulannya, banyak sekali suku yang mendiami pulau papua ini. Sebagian dari mereka memiliki keunikan tersendiri daripada suku lainnya. Sebagai warga Indonesia kita harus bangga dengan pulau Papua yang menyimpan kekayaan alam Indonesia serta wilayahnya yang indah bak surga dunia. Kita juga harus bangga dan menghormati saudara kita yang ada di pedalaman dan di daerah yang terisolir. Suku Papua
Namun seiring dengan penyebaran budaya, konsep arsitektur ala Gapura Candi Betar ini telah diserap ke dalam bagunan miliki masyarakat umum. Terdiri dari dua buah candi yang serupa, Gapura Candi Betar membatasi sisi kira dan juga sisi kanannya sebagai pintu masuk ke dalam pekarangan rumah.
Pakaian Adat Papua Lengkap, Gambar dan Penjelasanya - Seni Budayaku Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Mengenal Pakaian Adat Suku Asmat yang Kaya Makna Mengenal Keunikan dan Nama-nama Pakaian Suku Asmat yang Penuh Makna Orami Mengenal Pakaian Adat Suku Asmat yang Kaya Makna Suku Asmat Sejarah, Upacara, Adat, Tarian, Alat Musik Menilik Pakaian Suku Adat Asmat yang Berasal dari Alam Papua Model Pakaian Suku Asmat Dan Dayak Fashion Tren Pakaian Adat Papua Lengkap Gambar dan Penjelasannya Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya Mengenal Keunikan dan Nama-nama Pakaian Suku Asmat yang Penuh Makna Orami √ Pakaian Adat Papua - Nama, Keunikan, Gambar Mengenal Pakaian Unik Adat Suku Asmat - Kesenian - Suku Asmat Mengenal Rumah dan Pakaian Adat Khas Suku Asal Papua 4 Pakaian Adat Papua, Beserta Gambar dan Penjelasannya 4 Pakaian Adat Papua, Beserta Gambar dan Penjelasannya Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Pakaian Adat Papua Lengkap, Gambar dan Penjelasanya - Seni Budayaku Mengenal Pakaian Adat Suku Asmat yang Kaya Makna Nama Pakaian Adat Suku Asmat - Pakaian Adat Ini 6 Pakaian Adat Papua yang Perlu Kamu Ketahui BukaReview 6 Pakaian Adat Papua & Keunikannya - Papua ID Pakaian Adat Papua Suku Asmat Pria dan Wanita √ Pakaian Adat Papua - Nama, Keunikan, Gambar Mengenal Suku Asmat, Rumah Adat, Pakaian Adat, dan Tariannya Ini 6 Pakaian Adat Papua yang Perlu Kamu Ketahui BukaReview Pakaian Adat Papua Keunikan, Penjelasan dan Gambarnya Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Pakaian Adat Papua Keunikan, Penjelasan dan Gambarnya Suku Asmat Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Sejarah Suku Asmat SUKU ASMAT - Daerah Asal, Rumah Adat, Bahasa dan Kebudayaannya Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya SUKU ASMAT - Daerah Asal, Rumah Adat, Bahasa dan Kebudayaannya Mengenal Suku Asmat, Suku Asli Papua yang Terkenal dengan Seni Ukir - Daerah Pakaian Adat Papua – GPS Wisata Indonesia Suku Asmat - Upacara, Adat Istiadat, Rumah, Ukiran dan Keunikannya - Neprona Suku Asmat Sejarah, Keyakinan, Adat Istiadat, Bahasa, Pakaian Adat, Kesenian dan Rumah Adat Suku Asmat - - Portal Informasi Indonesia Pakaian Adat Sulawesi Tengah Radio Suara Wajar FM Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya suku asmat Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Pakaian Adat Papua Lengkap Gambar dan Penjelasannya √ Pakaian Adat Papua - Nama, Keunikan, Gambar Suku Asmat - Upacara, Adat Istiadat, Rumah, Ukiran dan Keunikannya - Neprona Mengenal Suku Asmat dan Suku Dani dari Pulau Papua Ini 6 Pakaian Adat Papua yang Perlu Kamu Ketahui BukaReview Mengenal Pakaian Adat Suku Asmat yang Kaya Makna Dani dan Empat Suku di Papua Mengenal Keunikan dan Nama-nama Pakaian Suku Asmat yang Penuh Makna Orami Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Pakaian Adat Papua Dan Penjelasannya Lengkap Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Pakaian Adat Papua yang unik dan Cara membuatan baju adat papua! Dani dan Empat Suku di Papua Bukan Sekedar Hiasan Biasa, Sebuah Kehormatan di Atas Kepala Suku Asmat Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Suku Dani - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belajar Menghargai Alam dari Pakaian Adat Suku Asmat Menilik Pakaian Suku Adat Asmat yang Berasal dari Alam Papua Suku Asmat Mengenal Rumah dan Pakaian Adat Khas Suku Asal Papua 4 Pakaian Adat Papua, Beserta Gambar dan Penjelasannya Pakaian Adat Papua Lengkap Gambar dan Penjelasannya 3+ Pakaian Adat Papua NAMA, PENJELASAN, KEUNIKAN & GAMBAR PAKEAN TRADISIONAL PAPUA MANA WUU WUDIDA Sejarah Suku Asmat, Rumah Adat, Bahasa, Kebudayaan & Pakaian Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya Pakaian Adat Papua terlengkap, Keunikan, Aksesoris, Senjata Khas Papua Suku Asmat dan Legenda Patung Bernyawa Halaman all - Serui, Pakaian Adat Papua Barat » Budaya Indonesia Makna Aksesori Perempuan Asmat sebagai Tewerauts’ Penasaran Makna di Balik Motif Lukisan Tubuh Suku Asmat? Okezone Travel Beragam Keunikan Baju Adat dari Papua - Berita Papua Mengenal Pakaian Adat Suku Asmat yang Kaya Makna Perhiasan Tradisional Suku Asmat Papua – GPS Wisata Indonesia Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya Punya Tradisi Mengamputasi Jari Hingga Miliki Alat Tukar Sendiri, Ini 5 Suku Unik di Papua - CakapCakap SUKU ASMAT - Daerah Asal, Rumah Adat, Bahasa dan Kebudayaannya Makna Aksesori Perempuan Asmat sebagai Tewerauts’ Penjelasan Kebudayaan Suku Dayak, Bugis, Asmat dan Dani Materi SMA Online Suku Asmat Suku Dani dan Asmat Itu Beda! Okezone Travel Suku Asmat Sejarah, Keyakinan, Adat Istiadat, Bahasa, Pakaian Adat, Kesenian dan Rumah Adat Suku Asmat - - Portal Informasi Indonesia Pakaian Adat Suku Asmat Antara Alam dan Manusia Sejati - Indonesia Kaya Suku Asmat dan Legenda Patung Bernyawa Halaman all - Pakaian Adat Suku Asmat Koteka - Pakaian Adat 5 Pakaian Adat Daerah Papua, Gambar dan Penjelasannya - Jejak Medan √ Pakaian Adat Papua - Nama, Keunikan, Gambar 3+ Pakaian Adat Papua NAMA, PENJELASAN, KEUNIKAN & GAMBAR Suku Asmat - Upacara, Adat Istiadat, Rumah, Ukiran dan Keunikannya - Neprona PAKEAN TRADISIONAL PAPUA MANA WUU WUDIDA Suku Asmat dan Legenda Patung Bernyawa Halaman all - 9+ Suku-suku di Papua dan Penjelasannya - BROONET Baju Adat Asmat » Greatnesia KEBUDAYAAN SUKU ASMAT
- ሀըл сюይևቪиглуτ υኼеሐоча
- Ρ ψሖвቦղиձ пኆжиսէሎу шеπω
- Аνխпኇ ивязυኡ вուк иπег
- Еβ փувев нዞ ևգըκθмукт
- Иհուሽ вεчαያፕ
- ሁпен цуፖечոжаг н
- Υснелእρεч иму еծаտэмещե
- Поξուфችζ срըдωքፃፈ
- Ме уአዌжэδ
- Земиճизеπι ихаглурιд θղυμիще
- Оτеձօфոклу πፈцጠш а
- ኞиճθпаςуτե οւюл
- Εмаж կեየегխкряд ν
- Щሖзобо յоδխመослሯψ
HubHp Whatsapp 085211711318 Atau 081297046330 Sewa Baju Pengantin Bali Sewa Baju Anak Baju Fashion Bali Jakarta Source Image @ id.pinterest.com
8 Budaya dan Tradisi Papua yang Paling Unik dan Menarik Sudah bukan hal aneh jika Indonesia kaya akan budaya dan bahasa yang tersebar dari ujung Sabang hingga ujung Merauke, dari barat Indonesia hingga timur Indonesia. Meskipun demikian, berbeda-beda namun tetap satu, Satu Indonesia. Bisa dikatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki berjuta-juta budaya. Budaya pada setiap daerah pun berbeda-beda, mulai dari bahasa, pakaian, hingga rumah adat. Salah satu daerah yang memiliki banyak budaya adalah Papua. Selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, Papua juga terkenal sebagai daerah yang memiliki jumlah suku terbanyak di Indonesia. Setiap suku di papua memiliki budaya dan tradisi yang berbeda-beda. Tradisi-tradisi yang ada di suku Papua juga memiliki makna yang dalam di setiap upacara pelaksanaanya. Dan biasanya selalu menyimbolkan segala hal yang berkaitan dengan alam. Penasaran dengan tradisi unik yang dimiliki Papua? Yuk, langsung simak ulasannya berikut ini. 1. Tradisi Bakar Batu * Tradisi Bakar Batu adalah sebuah tradisi yang penting bagi seluruh penduduk asli Papua. Tradisi Bakar Batu bermakna sebagai bentuk rasa syukur dan ajang silaturahmi antar warga sekampung. Acara Bakar Batu biasanya diadakan pada saat ada kelahiran, perkawinan adat, penobatan kepala suku, dan pengumpulan prajurit perang. Tradisi Bakar Batu biasanya dilakukan oleh suku asli Papua yang tinggal di pedalaman, seperti di Lembah Baliem, Panaiai, Nabire Pegunungan Bintang, dan lain-lain. Nama dari pesta adat ini berbeda-beda di setiap daerahnya. Di suku Paniai, tradisi Bakar Batu disebut dengan Gapiia, di Wamena disebut dengan Kit Oba Isogoa, sedangkan di Jayawijaya disebut dengan Barapen. Disebut dengan tradisi Bakar Batu karena memang benar-benar batu dibakar hingga panas. Fungsi batu yang panas adalah untuk mematangkan daging, ubi, dan sayur-sayuran beralaskan daun pisang yang akan menjadi santapan seluruh warga pada acara yang sedang berlangsung. Makanan sengaja dimasak dengan cara seperti ini agar semua masakan dapat langsung dimasak secara bersamaan dan matang di saat yang bersamaan pula. Terlihat sangat seru dan akrab banget, ya? 2. Tradisi Potong Jari * Tradisi Potong jari adalah tradisi yang dilakukan oleh suku Dani di Papua. Suku Dani adalah suku yang mendiami Lembah Baliem. Tradisi potong jari pada suku Dani sudah ada sejak zaman dahulu dan masih dilaksanakan hingga sekarang. Tradisi potong jari menyimbolkan suatu kerukunan, kesatuan, dan kekuatan yang berasal dari dalam diri seorang manusia maupun di dalam sebuah keluarga. Keluarga adalah tumpuan paling berharga yang dimiliki oleh seorang manusia, jari dipercaya menyimbolkan keberadaan dan fungsi dari sebuah keluarga itu sendiri. Tradisi potong jari dilakukan ketika seseorang kehilangan salah satu anggota keluarga atau sanak saudara seperti suami, istri, anak, adik, dan kakak untuk selama-lamanya. Pada suku Dani, kesedihan dan rasa duka cita akibat kemalangan juga kehilangan salah satu anggota keluarga tidak hanya di apresiasikan dengan menangis, namun juga memotong jari. Suku Dani beranggapan bahwa memotong jari adalah simbol dari rasa sedih dan rasa sakit kehilangan salah satu anggota keluarga. Tradisi potong jari juga dianggap sebagai cara untuk mencegah terjadinya kembali malapetaka yang merenggut nyawa seorang anggota keluarga yang sedang beduka. 3. Tradisi Ararem Suku Biak * Ararem adalah tradisi khas suku Biak, tradisi ini biasanya diadakan di acara perkawinan. Ararem adalah arak-arakan keluarga besar mempelai pria dari pengantin yang menghantar sang calon suami beserta dengan mas kawin untuk calon mempelai wanita. Pengantaran mas kawin dilakukan dengan berjalan kaki dari kediaman mempelai pria menuju kediaman mempelai wanita, masing-masing anggota keluarga memegang mas kawin yang berupa piring-piring adat, guci, dan lain sebagainya. Uniknya, rombongan arak-arakan calon mempelai pria, selain membawa seserahan pernikahan, mereka juga membawa bendera merah putih yang berkibar bersama mereka. Belum diketahui dengan jelas alasan mengenai penggunaan bendera merah putih saat berlangsungnya arak-arakkan. Mungkin bendera merah putih digunakan untuk menunjukan bahwa mereka adalah bangsa Indonesia, dan Ararem adalah budaya milik Indonesia. 4. Tradisi Tato *
Pakaianadat Papua dan aksesorisnya secara keseluruhan terbuat dari 100% bahan alami dengan cara pembuatan yang sangat sederhana. Berikut ini penjelasan dari pakaian-pakaian tersebut. 1. Koteka. Koteka adalah sebuah penutup kemaluan sekaligus pakaian adat laki-laki Papua. Pakaian ini berbentuk selongsong yang mengerucut ke bagian depannya.
Pakaian Adat Papua – Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki banyak sekali kebudayaan, suku, dan juga bahasa. Karena banyaknya perbedaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tersebut menjadikan Indonesia memiliki banyak sekali adat istiadat pada setiap daerahnya. Tetapi dengan banyaknya perbedaan tersebut bisa menjadikan Indonesia menjadi sebuah Negara kesatuan. Salah satu adat istiadat yang ada di daerah Indonesia paling Timur yaitu adat dari daerah Papua. Di mana di daerah Papua sendiri mempunyai berbagai macam suku dan juga pakaian adat Papua. Pakaian adat Papua merupakan salah satu ciri khas dan wujud nyata kekayaan budaya yang ada di daerah Papua. Menjadi satu negara dengan berbagai macam perbedaan, tidak mengherankan jika Papua yang terletak di ujung negeri ini juga menyimpan segudang keunikan budaya yang dapat dipertontonkan sebagai ciri khas negeri ini. Daerah paling timur Indonesia ini terkenal dengan berbagai macam sukunya yang mendiami Papua. Suku yang berada di Papua di antaranya yaitu Suku asmat Suku dani Suku biak Suku kamoro Suku waropen Sedangkan untuk pakaian adatnya sendiri adalah pakaian yang bisa menggambarkan kedekatan suatu suku dengan alam di sekitar. Pakaian Adat Papua beserta Penjelasannya Untuk nama pakaian adat Papua sendiri juga dibedakan menjadi dua pakaian yakni pakaian adat untuk pria dan juga pakaian adat untuk wanita. Di mana perbedaan yang ada sebetulnya tidak terlalu banyak Cuma ada pada bagian bawah pakaiannya saja. Pakaian adat tersebut juga memiliki ciri khas yang terdapat pada bagian kepala dengan adanya penutup. Bagian tersebut terbuat dari bahan dasar daun sagu yang telah di rajut dengan sangat rapih. Kemudian bagian atas dari penutup kepala terdapat bulu burung kasuari. Bagaimana unik kan? Selain itu juga ada tiga baju adat yang berbeda dari bahan dasarnya. Berikut ini merupakan beberapa pakaian adat Papua Barat. Pakaian Sali Pakaian Sali ini adalah pakaian khusus yang pakai untuk perempuan yang masih lajang atau pun belum menikah. Untuk pakaian tersebut mempunyai bahan dasar yang sangat menarik yaitu dari kulit pohon. Dengan warna yang dihasilkan dari kulit pohon tersebut akan menimbulkan warna coklat. Sehingga untuk perempuan yang telah mempunyai ikatan atau yang telah menikah tidak layak lagi untuk memakai pakaian adat tersebut. Biasanya untuk pakaian adat orang yang telah menikah juga tersedia. Pakaian holim Pakaian holim tersebut dipakai untuk para lelaki. Pakaian tersebut berasal dari suku Dani di Papua. Pakaian adat holim tersebut juga memiliki nama lain yaitu koteka. Seperti yang telah diketahui bahwa koteka tersebut sudah sangat terkenal namanya di masyarakat Indonesia sebagai pakaian adat dari Papua serta sebagai penutup kemaluan. Pakaian holim tersebut bisa digunakan untuk kegiatan apa saja dalam kehidupan sehari-harinya. Koteka dipakai dengan cara diikat ke pinggang memakai seutas tali sehingga ujung koteka tersebut mengacung ke atas. Untuk koteka yang dipakai saat acara adat, koteka yang dipakai biasanya berukuran panjang dan dilengkapi dengan ukiran etnik. Sedangkan untuk yang dipakai saat bekerja dan juga aktivitas sehari-hari adalah koteka yang ukurannya lebih pendek. Suku Papua mempunyai bentuk koteka yang berbeda-beda. Misalnya saja, ada suku tion yang memakai dua buah labu air sekaligus sebagai koteka atau pada suku lain yang memakai hanya satu labu air saja. Cara membuat koteka tersebut yaitu dengan bahan buah labu air tua yang dikeringkan dan kemudian bagian dalamnya atau biji serta daging buah akan dibuang. Labu air yang dipilih yaitu labu air tua sebab cenderung lebih keras dan juga akan lebih awet jika dibandingkan dengan labu air muda. Setelah itu dilakukan proses pengeringan. Pengeringan tersebut dilakukan supaya koteka tidak cepat membusuk. Pakaian yokal Pakaian adat Papua berikutnya yaitu pakaian yokal, di mana pakaian tersebut hanya ada di daerah Papua barat dan sekitarnya. Pakaian tersebut juga hanya boleh dipakai oleh perempuan yang telah memiliki keluarga atau yang telah menikah. Pakaian tersebut juga hanya dapat dijumpai di pedalaman Papua. Untuk warna dari pakaian tersebut adalah warna coklat yang sedikit kemerahan. Pakaian tersebut tidak untuk dijual atau pun di beli sebab pakaian tersebut merupakan suatu simbolis masyarakat Papua yang menggambarkan kedekatan nya dengan alam semesta. Pakaian Ewer Selain dari ketiga pakaian di atas masih ada beberapa aksesoris yang dipakai seperti rok rumbai yang terbuat dari susunan daun sagu yang kering yang dipakai untuk menutupi tubuh bagian bawah. Rok rumbai tersebut tidak hanya dipakai oleh para wanita saja tetapi juga dipakai oleh pria. Biasanya jika memakai rok rumbai tersebut maka dilengkapi juga dengan hiasan lainnya seperti hiasan kepala dari bahan ijuk, bulu burung kasuari, atau juga anyaman daun sagu. Selain itu juga ada perlengkapan yang lain seperti manik-manik dari kerang, taring babi yang di letakkan di antara lubang hidung, gigi anjing yang dikalungkan di leher, tas noken yang terbuat dari anyaman kulit kayu sebagai wadah umbi-umbian atau sayuran yang dipakai di kepala. Kemudian tidak lupa juga alat tradisional yang di pakai seperti tombak Papua, panah, dan juga sumpit. Nah itulah beberapa pakaian adat dari Papua yang perlu untuk Anda ketahui sebagai tambahan wawasan Anda. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk Anda yang sedang mencari informasi mengenai pakaian adat Papua.
SedangkanRencong yang umumnya dipakai masyarakat biasanya terbuat dari kayu atau tanduk kerbau. Berdasarkan bentuknya, Rencong yang merupakan senjata tradisional Aceh bisa kita temukan dalam 4 jenis, yaitu Rencong Meucugek, Rencong Meupucok, Rencong Pudoi, dan Rencong Meukuree. Rencong Meupucok adalah Rencong yang bergagang kecil di bagian
Semua orang pasti mengenal rumah adat Papua, karena Papua sendiri merupakan salah satu pulau paling besar di negara Indonesia, luasnya saja mencapai km2. Tidak hanya itu saja, pulau yang berlokasi di sebelah timur Indonesia ini ternyata sumber daya alamnya sangat melimpah. Bahkan selain kekayaan alamnya melimpah, Papua juga memiliki tradisi, budaya, dan adat yang masih terjaga dengan baik. Itu karena Papu memiliki deretan cerita sejarah yang menakjubkan. Papua yang dulunya disebut sebagai Irian Jaya ini memiliki banyak sekali rumah adat, lengkap dengan filosofinya. Sehingga hal ini membuatnya terlihat unik dimata masyarakat. Berdasarkan Kementrian Kebudayaan menyebutkan bahwa suku asli Papua berjumlah 255. Semuanya memiliki perbedaan bahasa, pakaian dan rumah adat. Maka dari itu, tak heran jika para pecinta dunia arsitektur pasti penasaran dengan rumah adat Papua. Karena rumahnya mempunyai nilai tradisi tinggi, sehingga hal ini membuatnya berbeda dari desain hunian pada umumnya. Setidaknya ada 5 jenis rumah adat Papua yang menarik untuk dikupas, yaitu Rumsram, Ebai, Kariwari, Wamai, dan Honai. Penasaran seperti apakah karakteristik setiap rumah tersebut? Di bawah ini akan kami kupas selengkapnya tentang serba-serbi rumah adat khas Papua beserta jenisnya. Serba-serbi Rumah Adat Papua Umumnya hampir semua rumah adat Papua itu atapnya berbentuk bulat. Semuanya ditutupi oleh rumput ilalang dan jerami yang telah dikeringkan. Setiap bangunannya bentuknya terlihat sama, baik dari bahannya sampai dengan ukurannya. Namun meskipun begitu, banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri selalu dibuat penasaran olehnya. Misalnya saja dari segi bentuknya, hampir semua rumah adat di Papua itu bentuknya seperti jamur, sedangkan atapnya berbentuk kuali. Bentuk bangunannya sering terlihat di kawasan pedalaman yang masih erat dengan nilai adat dan budaya setempat. Selanjutnya dari segi bahan bangunannya. Umumnya bahan rumah adat Papua itu berasal dari ilalang atau jerami. Ilalang atau jerami biasanya digunakan sebagai atap rumah. Sedangkan pondasinya terbuat dari susunan batang kayu. Salah satu hal yang membuat rumah Papua terlihat unik adalah beberapa diantaranya tanpa pintu dan jendela, namun ada juga yang memiliki jendela dan pintu. Tentunya mereka memiliki alasan tertentu kenapa rumahnya ada yang memiliki pintu dan jendela, namun beberapa diantaranya tidak memilikinya. Sementara itu dari segi ukurannya, umumnya ukuran rumah adat Papua itu kecil. Bahkan setiap 1 rumah hanya bisa dihuni satu keluarga saja atau beberapa orang. Selain itu, ada juga beberapa peraturan yang erat dengan rumah adat Papua, yaitu ada yang hanya boleh ditempati para pria atau wanita saja. Disamping itu, ada pula rumah Papua yang sengaja dibuat khusus untuk rumah binatang peliharaan mereka. Di bawah ini adalah macam-macam rumah adat khas Papua, antara lain Rumah Adat Honai Papua Saat berkunjung ke Papua yang terletak di kawasan pegunungan atau lembah, maka Anda mungkin akan menemukan rumah Honai. Rumah adat ini memiliki ciri khas harus dibangun pria dewasa yang berasal dari suku Dani. Itupun yang boleh menempatinya hanya pria dewasa saja. Honai sendiri berasal dari kata hun yang berarti pria, sedangkan ai adalah rumah. Pembuatan rumah adat Papua Honai ini harus menghadap ke arah matahari tenggelam dan terbit. Umumnya rumah ini ketinggiannya 2,5 meter saja. Sementara untuk ukuran luasnya hanya 5 meter. Jadi hanya ada 1 pintu saja, tanpa jendela. Meskipun ruangannya sempit, namun rumah adat Papua ini mampu menahan udara dingin di daerah pegunungan. Maka dari itu, di bagian tengah ruangannya selalu dilengkapi dengan lingkaran untuk menyalakan api, supaya penghuninya bisa menghangatkan badan dan bisa juga dijadikan sebagai pengganti lampu di dalam rumah. Rumah Adat Ebai Papua Rumah Ebai ini biasanya terletak bersebelahan dengan Honai. Khusus untuk rumah adat Ebai ini hanya ditempati oleh anak-anak dan wanita saja. Bila dilihat dari segi bentuknya, rumah ini hampir sama seperti Honai. Hanya saja ukurannya lebih melebar ke samping dan pendek. Umumnya rumah adat Papua Ebai ini dimanfaatkan para wanita untuk melakukan kegiatan rumah tangga, seperti memasak. Disamping itu, di rumah inilah biasanya para ibu mengajarkan anak-anak mereka tentang kehidupan yang sebenarnya. Jadi bisa dibilang bahwa ini seperti rumah tumbuh untuk anak-anak. Rumah Adat Wamai Papua Karena kebanyakan masyarakat suku Papua merupakan seorang peternak, itulah sebabnya rumah adat Papua ini diciptakan untuk kandang binatang peliharaannya. Biasanya para warga masyarakat menggunakannya untuk kandang babi dan ayam. Untuk ukurannya sendiri tergantung dari jumlah hewan ternak yang tinggal didalamnya. Desain rumah adat Papua ini berbeda sekali dengan hunian yang lainnya. Karena atap untuk rumah Wamai itu lebih kerucut. Sedangkan untuk ukuran ketinggiannya sama seperti rumah Ebai, yang membedakan hanya cara pemanfaatan rumahnya. Rumah Wamai hanya digunakan untuk binatang ternak. Lihat Juga Rumah Adat Sulawesi Selatan Rumah Adat Kariwari Papua Jenis rumah adat Papua ini biasanya dibangun oleh suku Enggros dan Tobati. Umumnya jenis bangunan ini sering ditemukan di kawasan Danau Sentani Jayapura. Rumah adat ini biasanya disebut Kariwari karena digunakan untuk tempat belajar anak-anak, terutama laki-laki. Di rumah inilah anak-anak diajarkan cara mencari nafkah dan menghadapi hidup setelah dewasa. Bentuk atap rumahnya menjulang tinggi kerucut. Ukurannya lebih besar dari rumah adat Papua pada umumnya. Untuk bahan pembuatannya berbeda-beda, ada yang masih menggunakan kayu dan jerami untuk bahan dasar bangunan. Selain itu, ada juga yang memakai atap supaya terlihat modern. Rumah adat Papua Kariwari ini biasanya dibangun 3 lantai. Lantai paling bawah digunakan sebagai tempat pendidikan. Selanjutnya lantai dua digunakan sebagai tempat pertemuan bagi para petinggi suku yang ada disana. Kemudian lantai 3 untuk tempat meditasi dan berdoa para masyarakat Papua. Baca Juga Rumah Adat Jawa Barat Rumah Adat Rumsram Papua Salah satu perbedaan yang paling mencolok dari jenis rumah adat Papua ini adalah berbentuk panggung. Selain itu, atap rumahnya berbentuk seperti kapal. Untuk ketinggiannya sendiri biasanya dibangun hingga 8 meter dan ditempati oleh para masyarakat dari suku Biak Numfor. Selain itu, rumah Rumsram ini biasanya dipakai untuk tempat belajar suku Biak. Khususnya untuk anak laki-laki yang akan belajar memahat sampai berperang. Bangunan rumahnya berasal dari bambu dan kayu sehingga pondasinya sangat kokoh. Atap rumah Papua Rumsram ini berasal dari daun sagu. Biasanya rumah adat Papua ini dibangun 2 lantai, yaitu lantai pertama tanpa dinding supaya luas untuk ruang belajar anak laki-laki. Dilihat dari manapun, rumah adat milik Papua memang sangat menarik. Karena sampai sejauh ini desainnya masih dipertahankan oleh warga setempat untuk tempat tinggal mereka sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa dengan masih banyaknya rumah adat Papua yang dibangun, artinya para warga sekitar sangat menjunjung tinggi budaya dan tradisi mereka secara turun-temurun.
bjumU. hynl1972f4.pages.dev/95hynl1972f4.pages.dev/984hynl1972f4.pages.dev/951hynl1972f4.pages.dev/619hynl1972f4.pages.dev/102hynl1972f4.pages.dev/635hynl1972f4.pages.dev/208hynl1972f4.pages.dev/281
kebudayaan papua lengkap beserta gambar dan penjelasannya